Jangan tanya pada senja,
Bagaimana, kenapa, mengapa,
Jiwa tak diluah dengan kata,
Hanya pena bukti tulusnya rasa.

Friday, 7 February 2020

Insan Biasa

Cermin berkabus itu,
Diusap ia dengan jemari lembut,

Dipandang cermin itu dengan mata berkaca,
Ada pantulan insan tersenyum longlai.

Tangannya mula goyah,
Matanya terkatup rapat.

Biarlah,
Biar hatinya saja yang berbicara,
Perih pedih perjalanan hidupnya,
Turun naik liku-liku hidupnya.

Setiap masa dan wang,
Yang telah dan akan dia taburi,
Demi mendapatkan pandangan manusia.

Dia lelah,
Dia sakit,

Manusia tanya mengapa?
Manusia tanya jawapan,
Padahal jawapan ada pada mereka

Dia sengsara,
Kerana mereka,
Yang menilai luaran,
Yang mempersoal takdir,
Sedang dia tak pinta semua ini.

Andai dia ada kata yang tepat,
Untuk bicarakan hatinya,
Dia ingin kalian baca,
Sengsara jiwa memendam rasa.

Dia insan biasa,
Ingin tidur yang lena,
Tak ingin ditemani air mata,

Pada siapa dia inginkan luahkan rasa?
Pada siapa yang fahami jiwanya?
Pada siapa dia ingin bercerita?
Ada manusiakah yang mampu fahami rasa?



💟 Originally from NAMS’00 




Wednesday, 8 January 2020

Waktu Bersamamu Adalah Kebahagiaan Yang Singkat


Ku terdongak menatapi,
Indah cahaya mentari,
Tika dunia seakan mula menyepi,
Aku tenggelam dalam fikiran sendiri.

Dibayangkan saat itu,
Bila kau dijengah usia dan waktu,
Urat tua di tanganmu mula menyatu,
Sihatmu pula mulai tidak menentu,

Saat heningnya malam,
Ku terdengar ada suara membalam,
Rupanya sakitmu yang mengenggam.

Waktu bersamamu,
Andai mampu ku panjangkan,
Tak ingin ku noktahkan,
Waktu ini amat membahagiakan,
Biarlah ia kekal diabadikan.

Namun,
Itulah kehidupan,
Mana mungkin ada yang kekal tersimpan, 

Bila tiba saat bahagia itu lenyap,
Mana mungkin ia mampu diungkap,
Gelora hati bak dihempap,
Pedih yang membunuh secara senyap.

Waktu yang singkat ini,
Ku ingin sulami hanya dengan bahagia
Penuh tawa dan ceria,

Kerana dirimu kenangan paling terpahat pada diriku...


💟 Originally from NAMS’00